;

Sabtu, 06 Oktober 2012

Dunia Mengejar

Sabtu, 06 Oktober 2012




Sejak tanggal 13 februari, sekolah-kampus-sekolah-kampus menjadi tempat terbanyak yang kukunjungi
Yah, paling tidak aku mempunyai kebiasaan-kebiasaan baru.. Memakai sepatu pen-to-pel, seragam ngajar yang sekali dua kali membuatku gak pede, walau ku akui aku bangga bisa berpenampilan seperti itu, melintasi kampus, sesekali melirih jam tangan(sengaja membeli) agar terlihat sok sibuk... Membawa tas jinjing dan buku besar atau entah apalah yang bisa kutentengi di tangan.. Mendadak meniru gaya jalan orang jepang yang sok cepat( padahal sebenarnya emang telat).

Seminggu yang berjalan cukup cepat bagi seseorang yang kelihatan banyak aktivitas, yah... Sangat beda dengan orang yang memang padat jadwal...

Anak-anak didik. Yah anak-anak didik, bukan anak-anak robot. Setidaknya makna itulah yang harus kujaga. Anak-anak yang harus dididik untuk dikenalkan kepada hal-hal baru, tapi makna itu udah pergi duluan.
Mendengarkan, menyimak sekali dua kali, berkutat dengan mainannnya, mendengarkan lagi, bertanya untuk gambar-gambar kontras, meletakkan dagu di atas meja seperti takut jatuh karna keberatan., begitulah aktivitas kanak-kanak ketika aku mengajar. Masih untung dibanding pertemuan pertama, walau hanya menjadi pengawas ujian, tapi kan bertemu. Tidak ada lagi yang meminta untuk tiduran di lantai, benar-benar membuatku harus mengolah kata-kata menjadi lebih sederhana untuk dimengerti makhluk seperti mereka.

Bersalam, bertanya nama dan asal, asal menyebut-asal padang ya bu-keturunan arab ya bu-orang aceh ya bu, seperti lugu diluar dan sopan, yah walau sebenarnya mereka sejatinya memang memiliki sifat itu... Acuh, berlarian, membuat forum diskusi, melingkar bersama teman sekelompok, seolah tak peduli, ada guru woi... Ehem, ada guru yang sedang praktikan maksudnya.

Mencoba menaikkan intonasi sekali dua kali, seperti sedang membaca puisi pahlawan dipenogoro... " Pedang di kanan, keris di kiri, tak gentar lawan walau banyaknya seribu kali, sekali perang sudah itu mundur..." intonasi yang semakin melemah, ehem.. Mencoba berdehem jika suara-suara kanak-kanak itu menenggelamkan suaraku, mestinya besok-besok aku bawa toa'. Sekalian kita orasi!

Mereka memang perlu diajarkan E-T-I-K-A, yah... Etika, estetika, entertika, etnika, eta.. Eta weh.... .
Bagaimanalah ini? Bagaimanalah ini? Menyelusup perasaan bersalah, jika mereka tidak memahami penjelasanku, bagaimanalah ini?
Satu, dua pertemuan sudah kujalankan sesuai perintah, menyusun RPP yang harus di tulis tangan, masih untung daripada ditulis kaki.  Meski kurasakan dengan tulis tangan lebih baik, memadukan gerak mata, tangan, fikiran hingga tetap terjaga. Menyusun kalender akademik sekolah, lebih layaknya disebut menyalin.... Silabus, alokasi pembelajaran, waktu efektif dan kawan-kawannya...

Membuatku berdelik lagi, aku harus beli printer nih_mencari alasan untuk dapat membelinya, walau sebenarnya memang sangat diperlukan. Kerja malam-kerja subuh, layaknya disebut ngetik malam-malam atau jam berapapun, bisa langsung diprint dan difikir-fikir lebih menghemat uang.

Ekosistem, komponen penyusun ekosistem, interaksi, piramida energi, pantai, danau, batu, matahari, parasitisme...
Mengotak-atik, mendelete, ctrl+s jika sudah fix... Mencari metode yang tepat guna sesuai azas-azas dan ketentuan yang berlaku. Sistem pencernaan, sistem pernafasan, peredaran darah, fotosintesis, klasifikasi makhluk hidup, hama dan penyakit tumbuhan dan seabrek materi yang telah dirundingkan oleh Badan penyusun kurikulum. Mencari pendekatan yang sesuai, menyusun lembar kerja siswa, memberi pekerjaan rumah... Yah, ritual menjadi seorang pengajar...

Jika hanya memperoleh materi itu, bisa saja mereka membeli banyak-banyak buku, mengoleksinya, entahlah dibaca atau tidak..  Entahlah mereka mengerti atau tidak mengapa harus belajar itu, entahlah mereka mengerti apa kegunaannya untuk masa depan mereka, entahlah dan entahlah...

Benar harus pake toa,: jadi, anak-anak...... Tujuan kita belajar materi ini adalah, satu agar kalian......... Tertawa. Memukul meja, seakan-akan menghakimi terdakwa, bedanya mereka tanpa palu, sedang hakim memakai palu dan seragam kebesaran. Tidak mendengarkan mengapa harus belajar materi itu, walau ada satu dua siswa yang fokus memperhatikan, tiga-empat....

Belajar bagaimana caranya menghargai, menghormati, mandiri dan segala sikap terpuji lain pun harus ditanamkan ke jiwa mereka.. Jadi benar ada RPP berkarakter. Jadi hebat betul para penyusun kurikulum itu, sudah tau duluan karakter siswa zaman sekarang, sehingga perlu ada RPP berkarakter.. Wong zaman dulu, tak perlu RPP, apalgi RPP berkarakter, tapi anak-anaknya lahir dengan karakter sendiri-sendiri, lah apa bedanya?
Sekarang Hidupku Terasa Dunia Mengejarku


Anda Telah Membaca artikel Dunia Mengejar, Baca Juga Artikel Berikut

ajmain.Halta - Sabtu, Oktober 06, 2012

1 comment

TULISAN PESAN KOMENTAR ANDA DISINI

Statistic

Photobucket

ping.sg - the community meta blog for singapore bloggers My Zimbio

blogger visitor